Kamis, 31 Oktober 2013

Kebesaran Pondok Pesantren Miftahul Huda


Sebagai lembaga besar,Pondok Pesantren Miftahul Huda terus mengibarkan sayap ke segala penjuru negeri. Ribuan alumni tersebar di seluruh kabupaten di Jawa Barat. Bahkan tidak hanya itu, alumni Pondok Pesantren Miftahul Huda juga tersebar di Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Batam, Bangka Belitung, Lampung, Palembang, Jambi, Riau, Mandailing Natal, Medan, dan Aceh.Seluruh alumni Miftahul Huda terikat dalam sebuah wadah besar yang bernama HAMIDA (Himpunan Alumni Miftahul Huda).  

Selain itu HAMIDA juga beranak pinah membentuk organisasi turunan yang terdiri atas IMG (Imamal Muttaqin Generation). IMG terdiri atas alumni pondok Pesantren Miftahul Huda yang masih muda, yang masih segar, dan masih tinggi daya juangnya. IMG aktif dalam berbagai kegiatan yang ada di lingkungan kepesantrenan dan lingkungan masyarakat di daerahnya masing-masing.

Organisasi turunan dari HAMIDA yang kedua adalah HAWAMIDA (Himpunan Alumni Wanita Miftahul Huda). HAWAMIDA terdiri atas istri-istri alumni Mifathul Huda ataupun seluruh alumni wanita Miftahul Huda. Mereka siap membantu seluruh kegiatan yang diadakan pesantren, membantu suami dalam menyebarkan ilmu di masyarakat bahkan menjadi leader di llingkungannya.

Dalam rangka mempererat silaturahmi antara alumni dengan pesantren Miftahul Huda, tiap bulan diadakan pengajian bulanan yang biasa diadakan setiap hari Jum'at minggu ke-2 tiap bulan Masehi. Selain itu, pesantren juga selalu mengadakan kegiatan rutin tahunan yang berupa Safari Maulid, dan Dakwah & Rihlah Ilmiah yang biasa diadakan di daerah alumni terpilih.

Selain itu juga tiap tahun diadakan REUNI AKBAR yang dikemas dalam sebuah acara Muharaman (1 Muharam) berupa tablig akbar, riadloh akbar, dan Prosesi Wisuda santri tingkat Ma'hadul 'Aly. Tidak kurang dari 20.000 orang alumni datang berbondong-bondong untuk bersilaturahmi dengan segenap guru di pesantren. Selain itu acara REUNI juga sering dijadikan ajang temu kangen sesama alumni, juga dijadikan sebagai ajang kampanye pesantren kepada masyarakat di daerahnya masing-masing, karena alumni tidak datang sendiri melainkan dibarengi oleh muridnya dan masyarakatnya.Diharapkan dengan adanya acara ini masyarakat tertarik untuk menyimpan anaknya untuk belajar di pesantren.

Selain berkontribusi terhadap kemajuan pesantren dan semakin solidnyna organisasi HAMIDA, HAWAMIDA dan IMG, REUNI AKBAR juga berkontribusi terhadap geliat ekonomi masyarakat. Puluhan stan dagang dan bazar ikut memeriahkan acara Muharaman ini. Acara akabar ni juga bisa menjadi destinasi wisata bagi daerah Tasikmalaya dan sekitarnya.

Minggu, 22 September 2013

NEGARA AGRARIS NON AGRARIS

 
Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam, betapa tidak, hamparan tanah nan subur membentang dari mulai Sabang sampai Merauke. Namun masih sedikit dari kita yang menyadari akan kekayaan alam tersebut. Sungguh suatu ironis. Di tengah-tengah alam yang begitu kaya ini masih terdengar jeritan orang kelaparan, kurang gizi, dsb.

Namun apakah kita harus menyalahkan seseorang, pemerintah, atau sistem pendidikan yang dinilai masih carut-marut?

Tungguh sangat tidak elok jika kita menyalahkan orang lain. Coba kita telaah sebuah ungkapan dari seorang ulama besar Tasikmalaya yakni KH. Khoer Affandi (Uwa Ajengan): "LAIN TANAH ANU ANGAR, TAPI KOKOD SIA ANU ANGAR" (Bukan tanah yang tandus, tapi tangan kamu yang tandus/tidak kreatif).

Jika kita telaah, sungguh ini merupakan sebuah ungkapan yang sangat cerdas. Dimana dalam realita kehidupan saat ini banyak orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya dengan alasan tidak punya pekerjaan. Padahal jika kita perhatikan, masih banyak tanah disekelilingnya yang dibiarkan terbengkalai tak terurus. Jika mengacu pada ungkapan Uwa Ajengan di atas, maka tidak akan ada cerita kelaparan di Indonesia. Sungguh suatu yang mesti kita pikirkan.

Yang jadi pertanyaan adalah mengapa bangsa yang hidup di negara agraris ini justru tidak menyukai bidang pertanian dan perkebunan sebagai matapencahariannya. Jawabannya sudah jelas. Hasil dari bertani dan berkebun tidak sebanding dengan pengeluaran rutin sehari-hari. Mengapa demikian ? Jelas pula jawabannya........ karena petani merupakan pihak yang selalu dirugikan dalam suasana apapun. Lebih besar pasaka daripada tiang, penghasilan dari bertani tidak sebanding dengan biaya perawatan, apalagi jika dibandingkan dengan kebutuhan sehari-hari yang terasa mencekit leher.

Satu kata yang mesti terucap dan terpenuhi adalah keberpihakan pemerintah terhadap kearian lokal agar negara agraris tidak tinggal kenangan......