Minggu, 22 September 2013

NEGARA AGRARIS NON AGRARIS

 
Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam, betapa tidak, hamparan tanah nan subur membentang dari mulai Sabang sampai Merauke. Namun masih sedikit dari kita yang menyadari akan kekayaan alam tersebut. Sungguh suatu ironis. Di tengah-tengah alam yang begitu kaya ini masih terdengar jeritan orang kelaparan, kurang gizi, dsb.

Namun apakah kita harus menyalahkan seseorang, pemerintah, atau sistem pendidikan yang dinilai masih carut-marut?

Tungguh sangat tidak elok jika kita menyalahkan orang lain. Coba kita telaah sebuah ungkapan dari seorang ulama besar Tasikmalaya yakni KH. Khoer Affandi (Uwa Ajengan): "LAIN TANAH ANU ANGAR, TAPI KOKOD SIA ANU ANGAR" (Bukan tanah yang tandus, tapi tangan kamu yang tandus/tidak kreatif).

Jika kita telaah, sungguh ini merupakan sebuah ungkapan yang sangat cerdas. Dimana dalam realita kehidupan saat ini banyak orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya dengan alasan tidak punya pekerjaan. Padahal jika kita perhatikan, masih banyak tanah disekelilingnya yang dibiarkan terbengkalai tak terurus. Jika mengacu pada ungkapan Uwa Ajengan di atas, maka tidak akan ada cerita kelaparan di Indonesia. Sungguh suatu yang mesti kita pikirkan.

Yang jadi pertanyaan adalah mengapa bangsa yang hidup di negara agraris ini justru tidak menyukai bidang pertanian dan perkebunan sebagai matapencahariannya. Jawabannya sudah jelas. Hasil dari bertani dan berkebun tidak sebanding dengan pengeluaran rutin sehari-hari. Mengapa demikian ? Jelas pula jawabannya........ karena petani merupakan pihak yang selalu dirugikan dalam suasana apapun. Lebih besar pasaka daripada tiang, penghasilan dari bertani tidak sebanding dengan biaya perawatan, apalagi jika dibandingkan dengan kebutuhan sehari-hari yang terasa mencekit leher.

Satu kata yang mesti terucap dan terpenuhi adalah keberpihakan pemerintah terhadap kearian lokal agar negara agraris tidak tinggal kenangan......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar